bukan dari air, juga bukan dari kaca
hanya cermin
tak bisa lupa, tak bisa benci
karena selalu melihat bayanganmu
tak bisa ingat, tak bisa rindu
karena selalu sakit
mata itu
bibir itu
hidung itu
senyum itu
semua seperti dirimu
bukan dari air, juga bukan dari kaca
hanya cermin
tak bisa lupa, tak bisa benci
karena selalu melihat bayanganmu
tak bisa ingat, tak bisa rindu
karena selalu sakit
mata itu
bibir itu
hidung itu
senyum itu
semua seperti dirimu
Aku ingin telanjang, biar semua melihat
aku ingin telanjang, biar tak ada yang kututupi
aku ingin telanjang, biar aku bisa merasakan tiap tangan yang menyentuh semua bagian tubuhku
aku ingin telanjang, biar orang bisa melihat indahnya diriku
aku ingin telanjang, biar kau tahu semua mauku
biar kan kutelanjang dan berbaring di atas ranjangmu dengan penuh kepasrahan
biar kucoba mengingat kembali bagaimana kau menyentuhku
biar kuingat lagi asyiknya bercumbu denganmu
biar kucoba mengingat betapa indahnya bercinta denganmu
biar kuingat lagi bagaimana rasanya menyentuhmu
masih ingatkah kau dengan sentuhanku?
Mendekatlah jika kau ingin melihatku
duduk di sampingku biar kubisa dengar detak jantungmu
biar kucari tahu, apa detak jantungmu masih sama dengan detak jantungku
genggam tanganku
tatap mataku
temukan cinta untukmu
peluk yang erat seakan kita takkan bertemu lagi
Hm… masih selalu kuingat ketika pertama kali kau menciumku
bibirmu yang lembut menyentuh bibirku
ku bisa rasakan darahku berdesir
nafasku terhenti
tubuhku menjadi dingin
indah…
tak perlu berkata-kata tuk mengungkap rasa
aku rindu kamu!
tak cukup kah semua pengorbananku,
hingga terus menerus kau korbankan aku?
tak cukup kah cinta yang berlimpah untukmu,
hingga harus mengering sungai cintaku?
tak cukupkah aku berjalan beriringan denganmu,
hingga harus ditarik, diseret dan diikat?
mungkin sebaiknya ku membagi segala yang kupunya bukan hanya denganmu, tapi juga dengannya dan mereka
satu kata sejuta makna
kukirimkan lewat angin yang berhembus
berharap akan sampai pada yang kutuju
ah… kenapa hati harus merasa rindu
sementara luka semakin menganga
dulu… sekarang… dan nanti
kerinduan ini masih tersimpan di hati
seandainya bisa menghapus luka
akan ku sirami hati ini dengan rindu
hingga cinta bisa benar-benar termaafkan
Diam!
Dengarkan detak jantungku yang makin tak menentu dan darahku yang mengalir deras
Kamu! Iya, kamu! Yang ternyata sudah menungguku di persimpangan itu
Yang datang di saat ku tak lagi bisa menemukan jalanku
yang menjadi bagian dari takdir hidupku
akankah ku menjadi sang penjahat cinta?
akankah ku menjadikan ini sebagai dosa termanis?
biar menjadi tanya dalam diamku